Anda Harus Tahu! Sejarah Gula Indonesia

Industri gula tanah air berkembang seiring dengan perjalanan kolonialisme Belanda di bumi Nusantara. Gula yang bermula dari industri rumah tangga tumbuh menjadi industri raksasa.


Bahkan, pada 1820 hingga 1890, industri gula di Jawa mampu menguasai pasaran dunia, menggeser gula bit produk Eropa.

Pertumbuhan industri gula zaman Belanda didorong oleh empat hal yakni penggantian teknologi, restrukturisasi perusahaan gula Belanda, penggantian varietas, dan pendirian lembaga riset.

Hasilnya, pada 1930, Hindia Belanda adalah pengekspor gula terbesar kedua di dunia, setelah Afrika Selatan. Pencapaian itu tak lepas dari berdirinya lembaga riset gula yang dibangun Pemerintah Hindia Belanda.

Gambar: Produk Gula Indonesia
Ihwal bendirinya lembaga riset gula itu cukup unik, karena dipicu oleh krisis gula di Jawa. Tak ingin industrinya hancur, Pemerintah Hindia Belanda pada 1887 mendirikan Proefstation Oost-Java (POJ), cikal bakal Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia.

Manisnya bisnis gula zaman Belanda sempat menggoda raja Jawa. KGPAA Mangkunegoro IV, misalnya, ikut terjun dalam bisnis gula. Raja Pura Mangkunegaran, Solo, itu mendirikan dua pabrik gula.

Pada 1861, sang raja membangun Pabrik Gula (PG) Colomadu. Sepuluh tahun kemudian, Mangkunegoro IV mengoperasikan PG Tasikmadu.

Dua pabrik gula itu kini terletak di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Sayang, pada 1998, PG Colomadu gulung tikar karena kekurangan pasokan tebu. PG Tasikmadu sekarang juga menghadapi persoalan makin sempitnya lahan tebu.

Makin sempitnya lahan ditambah persoalan teknologi pengolahan gula yang usang mengakibatkan sebagian besar pabrik gula warisan Belanda gulung tikar. Dari 179 unit pabrik pada tahun 1929, sekarang yang masih beroperasi tinggal 70 pabrik.

Sumber: Gatra edisi khusus Agustus 2005 dengan pengubahan seperlunya.
Post a Comment